FATWA: BUKAN URUSAN HALAL-HARAM, TAPI MASALAH SUKA-TIDAK SUKA

(Seri kelanjutan “Meminta Fatwa Haram Golput = menodong MUI”)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini semakin eksis di dunia gossip realita social-budaya Indonesia di awal bulan 2009 ini. Hal ini merupakan puncak dari sekian kabar-kabar yang sebelumnya mulai memanas di ranah media akhir bulan lalu. Setelah sebelumnya kak Seto (Komnas Perlindungan Anak) khawatir kan kondisi anak-anak Indonesia yang sudah banyak mencoba merokok bertandang ke gedung MUI untuk mendorong para sesepuh ulama nasional mengeluarkan fatwa haram rokok. Kemudian, isu fatwa haram golput yang juga menjadi pro-kontra dikalangan elit politik dan elit ulama. Dan terakhir , setelah berkumpul di Padang, MUI mengeluarkan fatwa halal tentang aborsi apabila janin membahayakan dan mengancam keselamatan sang ibu.

Tentu ketiga wacana tersebut sempat menjadi bulan-bulanan media karena memang setiap keputusan yang dikeluarkan MUI selalu ada pihak yang diuntungkan dan tak banyak yang dirugikan. Semakin mengkhawatirkannya jumlah pecandu rokok di Indonesia menjadi bagian pertimbangan yang mendorong keluarnya fatwa haram rokok. Di sisi lain kita melihat bahwa jutaan orang banyak yang menggantungkan hidupnya dari rokok. Bahkan cukai rokok menjadi salah satu sumber penerimaan pemerintah terbesar yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan nasional. Peran industry rokok dalam menyerap tenaga kerja juga terhitung cukup besar, belum lagi efek multiplier yang ditimbulkannya seperti terlihat pada supermarket, mini market, pedagang klontongan, pedagang asongan hingga rumah sakit khusus paru-paru turut mendapat bagian keuntungan secara material. Wajar saja jika wapres Jusuf Kalla berkomentar bahwa fatwa haram rokok sebaiknya menimbang urusan ekonomi dan ketua HKTI tak luput mengajukan keberatannya terhadap MUI.

Begitu pun dengan isu wacana fatwa haram golput yang akhirnya jadi juga difatwakan MUI. Tak peduli dengan pro-kontra yang menyertainya, ketegasan MUI dalam mengeluarkan fatwa sudah tak dapat dibendung lagi. Seperti biasa, isu ini menjadi bagian perdebatan yang cukup panas dikalangan elit, terlebih menjelang Pemilu 2009. Menariknya fatwa haram golput ini merupakan buntut pertentangan yang melibatkan tokoh besar umat Islam sendiri. Bahkan ada sekelompok ormas atau gerakan Islam idiologis-politis di Indonesia yang termasuk bagian dari ormas-ormas yang ada di MUI yang melantangkan golput karena alasan idiologis dan sebagai bentuk ketidakpercayaan mereka pada system demokrasi yang dianut saat ini. Entah, bisa atau tidak fatwa ini melunakan kelompok tersebut untuk bisa menitipkan suaranya pada partai-partai Islam yang ada.

Komisi Pemilihan Umum dan Parpol cukup diuntungkan dengan keluarnya fatwa tersebut. Namun, ini sebaiknya menjadi cermin juga bahwa masih banyak orang yang tidak percaya pada parpol. Parpol-parpol yang ada harus berintrospeksi dan meluruskan niat dalam perjuangannya karena tak sedikit orang berpendapat bahwa lahan politik merupakan lahan garapan yang cukup menguntungkan untuk digarap. Terbukti banyaknya caleg-caleg yang muncul saat ini kebanyakan tak memiliki kapasitas yang memadai, hanya bermodalkan duit, dan cenderung sebagai upaya untuk mencari alternatif dari sekian lowongan perkerjaan yang semakin sempit.

Sebagaian orang menganggap bahwa MUI adalah sebuah lembaga yang kontroversial. MUI didirikan oleh orde baru Soeharto sehingga pendiriannya waktu itu dinggap tak luput dari kepentingan politik Orba. Kelembagaan MUI yang berwenang sebagai penentu halal-haram dan penerbit sertifat halal bagi ribuan produk di Indonesia juga menjadi perbincangan yang menarik mengingat MUI bukanlah lembaga Negara yang bersifat mengikat kepada warganya. Sertifikasi halal sebaiknya dikeluarkan oleh Departemen Agama sebagai lembaga formal Negara. Sehingga jelas, sebagian orang berpendapat tak perlu menghiraukan apa-apa yang dikeluarkan MUI. Lebih pedas kritikan yang diajukan kepada MUI adalah bahwa lembaga tersebut merupakan kumpulan ulama-ulama belian. Setiap fatwa atau sertifikasi halal yang dikeluarkan memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan memang dalam kenyataannya, segala sesuatu itu membutuhkan uang, walaupun sebenarnya uang bukanlah segala-galanya. Uang adalah pengganti biaya atas proses, uang bukan untuk memenuhi permintaan pengeluaran fatwa halal/haram. Selama dalam proses uang tetap dibutuhkan, entah apapun hasilnya: halal kah atau haram.

Jika kita tinjau lebih dalam, apa yang dilakukan MUI adalah sebuah kewajiban bagi para ulama untuk menyampaikan sebuah kebenaran khususnya dalam menanggapi pelbagai permasalahan kontemporer yang sebelumnya di zaman Nabi tidak pernah ada. Kewajiban mereka adalah menggali dari berbagai literatur dan pendekatan ijtihad secara tekstual maupun kontekstual sehingga didapatkan sebuah jawaban atas permasalahan umat saat ini. Dengan itu, umat diharapkan tidak akan kebingungan di tengah jalan dalam menentukan sikap.

Fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI terkadang cenderung terlambat dibandingkan dengan permasalahan yang justru telah jauh berkembang. Seperti halnya fatwa haram merokok dan fatwa pelarangan riba. Namun sesungguhnya, jika kita lihat fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI lebih bersifat untuk mempertegas pernyataan saja. Yang hitam katakanlah hitam, dan yang putih katakana pula putih. Bagaimanapun keterlambatan itu tetap lebih baik jika dibandingkan tidak sama sekali. Tetapi memang, alangkah lebih baiknya jika fatwa dikeluarkan sebelum permasalahan berkembang dan terlanjur membudaya dikalangan masyarakat, bahkan telah terlanjur menjadi salah satu urat nadi perekonomian bangsa. Kalau sudah begitu, urusan fatwa bukan urusan surga atau neraka lagi, melainkan urusan suka atau tidak suka. Orang yang terlanjur suka akan suatu hal tidak akan terpengaruh dengan adanya fatwa. Hal itu sudah terlanjur menjadi kebiasaan yang seolah-olah tidak berdosa jika dilakukan. Lalu, siapa yang patut disalahkan? Apakah ulama telah gagal dan terlambat memandu umatnya ke jalan yang lurus dan benar atau memang masyarakatnya saja yang tidak mau masuk surga?

Perdebatan mengenai fatwa MUI memang selalu mengundang perhatian luas public. Tak peduli seberapa serunya perdebatan , yang penting adalah produktivitas dari perdebatan itu sendiri, maksudnya perdebatan tersebut berbuah masukan positif bagi kalangan yang berdebat yang akhirnya akan berbuah manis dalam menciptakan perbaikan kondisi umat ke depan.

Februari 7, 2009 at 5:06 am 2 komentar

MEMINTA FATWA HARAM GOLPUT = MENODONG MUI

zvcpy7mqv0ha88jzd1hgAkhir –akhir ini wacana mengenai fatwa yang mengharamkan golput (golongan putih) santer terdengar di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Isu ini berkembang setelah Hidayat Nurwahid—ketua MPR RI—meminta kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menfatwakan haramnya golput. Menurutnya, golput adalah bentuk keputus-asaan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Hidayat juga menekankan akan pentingnya meningkatkan peran partai politik (parpol) dalam menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap partai politik yang ada yang bisa dilakukan sejak dini melalui pengkaderan yang baik.

Ketua dewan fatwa MUI, KH. Ma’ruf Amin, berpendapat bahwa meminta memfatwakan haram akan suatu hal sama dengan menodong MUI. Urusan halal atau haram adalah urusan MUI, jadi jangan meminta memfatwakan haram atau halal, tetapi meminta fatwa saja itu sudah cukup. Lebih lanjut Pak Kyai menyatakan bahwa itu baru sebuah wacana, belum ada fatwa mengenai haram atau halalnya golput. Di sisi lain, beliau sebetulnya setuju akan haramnya golput. Menurut penilaiannya golput tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya merefleksikan bentuk keputus-asaan. “Mencoblos atau memilih bisa menjadi wajib apabila kita memilih partai politik (lebih…)

Desember 24, 2008 at 10:28 am 3 komentar

Mukhtamar SES-C 2008: Reportase dan Rekomendasi

Minggu (21/12) menjadi hari yang bersejarah bagi segenap pengurus Sharia Economic Student Club (SES-C), sebuah organisasi Badan Semi Otonom (BSO) yang berada di lingkungan Fakultas Ekonomi Manajemen (FEM) IPB. Pada hari itu dilaksanakan mukhtamar, sebuah musyawarah bersama untuk mendengarkan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) ketua SES-C 2008 sekaligus menentukan ketua baru untuk masa kepengurusan selanjutnya.

Musyawarah berjalan khidmat dan penuh kekeluargaan. Seluruh peserta yang merupakan pengurus menerima tanpa syarat atas LPJ yang disampaikan sang ketua, Fehmi Kurnia. Semua pihak menyambut dengan tepuk tangan, bangga akan pencapaian program-program kerja yang mayoritas sudah terlaksana, hanya ada beberapa proram yang memang belum selesai tepat waktu, seperti penyusunan jurnal ekonomi syariah yang dilaksanakan oleh divisi riset, pembuatan jaket oleh divisi usaha mandiri (usman), dan satu program tambahan yang diamanahkan kepada divisi eksternal yaitu rihlah/jalan-jalan sebagai program perpisahan kepengurusan masa ini.

Estafet perjuangan BSO ini akan terus berlangsung hingga waktu yang tidak dtentukan. Beberapa kader terbaik pun selalu muncul dan akan menggantikan kader-kader yang ada saat ini. Sebelumnya telah dilaksanakan fit and proper test bagi siapapun (baca: pengurus) yang memiliki visi ke depan untuk memajukan SES-C menjadi lebih baik lagi. (lebih…)

Desember 24, 2008 at 10:09 am Tinggalkan komentar

SISTEM EKONOMI ISLAM: SATU-SATUNYA SOLUSI KRISIS FINANSIAL GLOBAL

fb2Judul di atas merupakan judul seminar yang diselenggarakan BKIM IPB pada hari Sabtu (20/12) kemarin. Judul yang cukup mendorong siapapun yang tertarik dengan dunia ekonomi (terutama ekonomi Islam) dan yang tak ketinggalan mengikuti perkembangan krisis financial global (KFG). Seminar tersebut menghadirkan pakar-pakar nasional yang kompeten di bidangnya, antara lain Iman Sugema, Phd (ekonom senior yang sedang naik daun, berkiprah di INDEF, Intercafe, dan masih aktif sebagai dosen di Departemen Ilmu Ekonomi, FEM IPB) ; Jaenal Effedi, SE, MA (dosen Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi, FEM, IPB ); Ir. Ismail Yusanto, MA (Pakar Ekonomi Islam/Direktur SEM Institute). Patut disayangkan salah satu pembicara berhalangan untuk hadir. Beliau adalah Prof. Dr. Kwiek Kian Gie—tokoh nasional. Padahal, Kwiek diharapkan akan menjadi pengimbang karena beliau dinilai dapat melihat dari perspektif yang berbeda.

Krisis financial global bermula dari krisis subprime mortgage—semacam kredit perumahan murah yang sertifikatnya diderivatifkan dan diperjualbelikan di pasar modal—yang kemudian berimbas bukan hanya di Negara maju melainkan juga di Negara berkembang, termasuk Indonesia. (lebih…)

Desember 21, 2008 at 3:38 am 1 komentar

NOSTALGILA: I’m Still Oldskool

Sunday (Midnight), June 1st 2008

This is the second time acara kontes musik pemuda masa kini diadain lagi di kampung gw. Setelah sekian lama, kira-kira pas gw baru tingkat satu akhir acara yang sama pernah digelar. Waktu itu acara dilaksanakan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia, kalo dalam bahasa simple-nya acara agustusan.

Kali ini acara digelar hanya untuk senang-senang tanpa alasan yang jelas dan dapat dipertangungjawabkan di hadapan publik. Ide ini berawal dari salah satu anggota masyarakat yang memiliki sebuah studio musik. Chaeril Armoza namanya. Akrabnya gw panggil Caeril or sametimes Eril. Kebetulan dia sahabat gw SMA yang selalu gw tebengin kalo dia lagi bawa bo’il ke sekolah. Lumayan bisa ngirit ongkos hingga 50 persen, or perhaps till 100 persen kalo kebetulan pulang pergi bareng dia. But, itu jarang terjadi. Secara kelompok bermain gw beda airan sama kelompok dia. Kelompok gw idiologinya lebih ke arah ’little religious melankonis futuristis’, sedangkan temen gw itu alirannya lebih mendekati ’sabodo teuing aing teu nyararaho’ (hayo loh, tau gak artinya?? Hehe, sorry Ril heureuy). So, wajar kalo balik kita jarang bareng coz biasanya masing-masing kelompok punya tujuannya masing-masing.

Awalnya, kata Eril, acara ini dibuat sekaligus untuk launching album indie and EO alias event organizer-nya. Tapi berdasarkan apa yang gw liat dan amati, kayaknya enggak gitu deh. Acaranya begitu sederhana. Di pagi hingga sore hari, si Caeril dan panitia lainnya menampilkan band-band pemula yang mayoritas ABG untuk membawakan masing-masing dua lagu dari setiap band. Tujuannya sih sedikit komersil, cari duit juga ya Ril?! Maklum lah, bikin acara sekecil apapun tetep membutuhkan duit yang lumayan. Biar gak rugi-rugi amat. Next, malemnya baru acara private, tertutup untuk umum, wabil khusus untuk temen-temen deketnya aja. Band-bandnya keren, ber-skill and betul-betul menghibur. Ada beberapa band indie yang sudah menelorkan album, seperti Mayonaise, ada pula band kocak mirip Team Lo yang berasal dari Unpak membawakan lagu-lagunya Benyamin Su’eb. Itu loh tokoh legendaris dengan muka kampung rezeki kote. Lainnya, band-band potensial yang gak kalah seru yang berasal dari berbagai sudut di wilayah Bogor. Bahkan ada satu band berasal dari kampus IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Terbayangkan, kalo acara ini gak bisa dibilang acara ece-ece, eventhough sebenernya dikemas dengan amat sederhana sekali.

Siang hari menjelang waktu Dzuhur gw and temen menuju ke lokasi. Sempet agak kecewa coz acaranya ko gini banget, terlihat ece-ece, banyak muda mudi berondong baru tumbuh bak kecambah. Dengan stelan gaya anak zaman sekarang, tentunya berdasarkan aliran kepercayaan masing-masing, para pelancong itu betebaran di sepanjang jalan Mandor Hasan. Sedikit prihatin melihat kondisi umat saat ini, dan sedikit malu juga melihat kondisi diri ini. Dalam benak gw selalu bertanya-tanya: mungkin dulu, waktu masih daun bawang (abege) gw kayak gini kali ya? Oh tidak. Dan ternyata hal ini membuat gw merasa semakin tua. Gw bukan anak ingusan lagi chuy. Tapi, ya sudah lah, sudah memang seharusnya.

Jujur, ketertarikan gw terhadap dunia musik/band sudah sangat berkurang. Jangankan memimpikan untuk membuat album indie, memainkan alat musik pun sudah tak bisa lagi. Padahal sebelumnya gw selalu berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya, dari satu gig ke gig lainnya. Maklumlah, bukan sedikit sombong, dulu band gw merupakan salah satu band yang paling ditunggu-tunggu oleh para undergrounder tingkat lokal. Bukan lokal nasional, bukan pula lokal regional, melainkan lokal kecamatan atau lebih parahnya lokal RT/RW. Bukan karena kepiawaian kami bermain musik, bukan pula kehebatan kami dalam setiap aksi panggungnya. Jadi, apa dong? Nah, itu dia yang selalu kita tanyakan. Tapi betul bahwa dunia seperti ini sudah sekian lama gw tinggalkan. Ada hal yang lebih penting yang harus gw lakukan. Dan gw kira tak bisa ditinggalkan sepenuhnya, gw tetep harus tau perkembangan musik idiologis seperti ini dari masa ke masa. Tujuannya hanya satu, supaya bisa tetap dekat dan nyambung dengan mereka yang menganutnya. Sehingga tujuan dakwah pun bisa dicapai dengan mudah. Makanya, untuk para aktivis, jangan memandang sebelah mata, tapi lihatlah bahwa disana ladang amal bagi kita. Masih banyak sendi-sendi kehidupan yang perlu kita jamah. Kalo bukan kita siapa lagi.

Siang itu gw ketemu sama temen sekampung jua, mereka mengatakan bahwa band-nya main malem nanti. Sial, tadinya sore ini gw berencana balik ke kostan. Besok gw kuliah pagi jam tujuh. Dosennya lumayan killer juga, gak boleh masuk kalo telat lebih dari 10 menit. Ditambah, ada PR yang belum gw kerjakan. Tapi, pikirku berkata lain, ini kan acara yang jarang sekali terjadi, sayang kalo dilewatkan. Hajatan pemuda kampung kita lah pokonya mah. Baiklah, ternyata kala itu syetan berhasil membujuk gw. Akhirnya gw putuskan untuk berangkat subuh saja, nonton dulu sampe kelar. Nanti malam gw putuskan untuk kembali ke tempat ini. Nonton band-band yang lebih matang dan berkualitas.

Malam hari mulai pukul 21.00 acara kembali dimulai. Sebelumnya acara direncanakan akan dibuka kembali ba’da isya atau sekitar pukul 19.30, tetapi karena banyaknya massa yang berdatangan dan menunggu di depan pintu gerbang acara ditunda. Acara ini merupakan acara private, bukan untuk umum. Dikhawatirkan pula akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan alias rusuh, beberapa fenomena maksiat seperti meminum minuman keras dan mojok ’dua sejoli’ di tempat-tempat tertentu dimana sesungguhnya panitia tidak bisa mengontrol hal semacam ini. Jadi lebih baik dibubarkan terlebih dahulu. Selanjutnya hanya peserta, panitia, dan warga Kopo saja yang boleh menikmati acara ini.

Berbagai band tampil memukau dan menghibur. Dari yang superserius hingga mellow, dari musik benyamin sampai musik oldskool ada di sini. Seru dan asyik. Bahkan mang Andi, si penggembala kambing, pun tak bisa mengedipkan matanya melihat aksi panggung peserta. Terlebih rasa penasaran beliau yang ingin menyaksikan si Nelo, anaknya, beraksi sebagai drumer dalam sebuah band melodic di kampung kami. Gw dan mang Andi terus menyaksikan berlangsungnya acara sambil mengamati kondisi umat masa kini. Adakah perubahan yang lebih baik bagi warga kampung kami. Gw bisa menyimpulkan bahwa generasi muda saat ini lebih baik, walaupun mereka bermain band beraliran bawah tanah, tetapi dalam aktivitas bersih-bersih masjid, makam, atau kerjabakti lainnya tak pernah dilewatkan, bahkan mereka termasuk golongan orang-orang yang rajin beribadah/solat ke masjid (walaupun cuma magrib dan isya doank, hehe..).

Keadaan memanas di beberapa menit terakhir, band tuan rumah (The Matador: Caeril dkk.) menampilkan performance yang matang dan ’full of power’ burned spirit penonton yang ada, terutama barudak Kopo. Terlebih lagi acara ditutup dengan band tuan rumah kedua, yaitu The Maker, yang terdiri dari Nelo (anak mang Andi) sebagai drumer, Baba (Imam), Temon, dan iO anak pak Lurah yang membawakan melodic song karya sendiri. Barudak Kopo pun antusias moshing/pogo sambil bercanda dan tertawa-tawa memperagakan gaya yang aneh. Memang sudah seperti itu tabiatnya kali ya?? ;-p

Mentang-mentang band penutup, The Maker mulai dirasuki roh hardcore dari para sesepuh penyebar hardcore NU-skull di wilayah kami. Mereka adalah Utenk dan Sabenk. Utenk langsung saja mengambil alih mic dan me-request The Maker untuk membawakan oldskool song yang sempat dipopulerkan band gw dulu di masa jahiliyah ’Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas’. Lagu tersebut merupakan sebuah karya band oldskool peteran Jakarta Straight-Answer.

Keadaan menjadi lebih tidak terkendali, ratusan masa Front Oldskool Kopo (FOK) memadati area panggung, pogo dan turut bernyanyi meneriakan sebuah jargon ’Bangkit Melawan atau tunduk Ditindas’ di sela-sela lirik secara bersama-sama. Tak ketinggalan tokoh pemuda pembela umat masa kini terpancing untuk turut serta turun panggung bernyanyi bersama. Meski kacamata yang dikenakannya terlempar ketika pogo, tak menyurutkannya untuk berhenti. Idealisme paham bawah tanah yang sempat dianutnya kembali merebak kepermukaan. Semua orang pun tak menyangka ini bisa terjadi pada seorang yang dikenal sebagai salah satu aktor intelektual dibalik berbagai pergerakan untuk melawan kesewenang-wenangan proyek kontroversial hotel USSU dan berbagai perubahan yang telah dilakukannya untuk kemajuan umat.

Hal yang lebih menarik, musisi Bluss Kopo kawakan alias Mang Ayo yang sudah memiliki tiga anak dan bisa dikatakan tidak muda lagi secara fisik tak tahan untuk ikut-ikutan pula setelah sebelumnya menahan teman-teman untuk tidak rusuh dalam pogonya.

Selain itu disinyalir turunnya dedengkot NU-skull mengambil alih mic dan merasuki warna musik kedua The Maker dikarenakan ketidakpuasannya akibat gagal manggung karena salah dua dari personil bandnya dulu tidak bisa menerima tawarannya bermain dalam acara tersebut. Salah satunya karena sudah menjadi ketua DKM di kampung kami (Hehehe..). ”kita buktikan bahwa Kopo bersatu tak bisa dikalahkan”, kata Utenk.

Juni 7, 2008 at 10:31 am Tinggalkan komentar

Semakin Bad Mood Gara-gara Nyali Ciut

My Diary, Thursday 22, Mei 2008

 

Tumben, sore ini gw pengen mencurahkan isi hati yang entah apa yang sedang dirasakan, lagi gak mood ”anything” nih. Sebenarnya sih pengen dari dulu bisa mencurahkannya dalam bentuk tulisan kayak gini, tapi ada aja godaannya, ada kerjaan/tugas lah, perlu koordinasi ke daerah2 lah, atau mungkin ketika mood yang aneh-aneh itu datang setelah mandi udah ilang lagi, males dah jadinya kalo nulis. Kayaknya cuma buang-buang waktu doang, padahal masih banyak yang harus gw lakukan di dunia ini, belajar atau melakukan something positive lain. Hmm, hati manusia emang mudah terhanyut oleh angin, tersapu ombak, bagaikan es yang mencair karena terpancar oleh sinar matahari yang panas. Tapi pas gw pikir sekarang nih, mencurahkan isi hati itu kan penting ya, selain bisa menghilangkan bad-mood juga bisa menambah kapasitas kita dalam bidang tulis menulis. Siapa tau bisa jadi penulis cerpen nantinya, atau mungkin novel, artikel dikoran/majalah, dll.

 

Begini nih ceritanya, tadi pas berangkat kuliah jam setengah satuan bawaannya males mulu. Cuacanya panas. Jalannya juga males, maklum fakultas gw emang agak jauh dari kostan. Apalagi sendirian berangkatnya. Temen sekostan gw, si Indra berangkat dari jam setengah sembilan tadi. Kebetulan tadi ketemu di depan Bursa Dramaga, pas gw mau pulang ke kostan, dari Jakarta, nginep ditempatnya Faqih, temen satu organisasi di FoSSEI. Ceritanya lucu bisa sampai nginep disana. Tak disangka, tak diduga. Segala sesuatu itu memang Tuhan yang menentukan. Recananya kemaren itu ana (bahasa rohisnya saya/gw), Fehmy, Izul and Faqih mau pergi ke Bank Indonesia. Organisasi gw diundang kesana untuk diskusi tentang pengembangan ekonomi syariah, terkait dengan simposium nasional yang sudah diadakan oleh komisariat Riau 12-14 Mei kemarin. Sekitar 20 orang yang diundang dari Jabodetabek. Wah kerenkan, jarang-jarang mahasiswa diundang oleh orang sekaliber pak Ramzi Zuhdi. Itu loh, pimpinan Direktorat Perbankan Syariah BI. Kita udah kayak orang-orang penting aja, berpakaian serba necis, kecuali gw yang cuma pake polo-shirt (biasalah mahasiswa). Dari Bogor memang terlihat keren, sudah sampe di Jakarta kelihatan kucelnya. Hehe. Maklumlah transportasi yang digunakan KRL alias kereta listrik, kelas kambing pula. Rp 2500; bisa sampe Kota. Dari KRL kita turun di stasiun Djuanda, trus harusnya naik busway ke Thamrin. Sayang, busway gak bisa lewat Thamrin, jalannya ditutup, ada aksi/demo besar-besaran menolak kenaikan BBM. Kita kebingungan, kata Didi (Presnas) dari situ tinggal naik ojek aja. Kita berempat kepalang naik busway berdasarkan saran satpam busway yang menyesatkan. Dia nyuruh turun di Harmoni, trus kemana gitu. Faqih yang tau. Dia kan orang Jakarta.

 

Sesampainya di Harmoni, kita ngantri lagi nunggu busway yang ke blok-M, gw sih ikut aja, abis gak tau apa-apa tentang jalan-jalan di ibukota. Akhirnya Izul dan Fehmy mutusin keluar dari antrian. Mereka pilih naik ojek biar cepet nyampe. Gw sama Faqih mikir-mikir, kayaknya mahal naik ojek dari Harmoni ke BI. Gak jadi deh, gw ikut Faqih aja.

 

Dasar, si Faqih yang anak jakarta itu kurang menguasai jalannan ibukota juga. Jam tiga kita masih di busway. Pertemuan kan jam dua. Ah, pupus sudah harapan untuk bertemu dengan salah satu orang penting di Indonesia ini. Ikut Faqih aja pulang ke rumahnya. Istirahat disana, nginep.

 

Begitulah cerita kenapa gw bisa nginep di rumah Faqih. Gak pernah direncanakan sebelumnya. Dan ini merupakan yang pertama kali gw berkunjung ke tempat dia. Lumayan seru sih. Kampungnya kayak Daarut Tauhid, pesantrenan Aa Gym. Sejuk, tenang, banyak akhwat berjilbab besar dan banyak ikhwan berjanggut. Di masjid Al-Hikmah, yang ada di sana, jumlah yang solat banyak, entah magrib, isya, bahkan subuh. Bahagia sekali rasanya.

 

Loh ko jadi kesana ceritanya? Lanjut ke cerita awal. Siang tadi emang lagi agak gak mood. Masuk kelas, gak kebagian duduk disamping temen-temen baik gw biasanya. Barisannya udah full, cuma depannya yang kosong. Ya sudah gw duduk di depannya, tepatnya baris kedua. Sendiri pula.

 

Lantas apa yang terjadi, mood gw yang agak bad ini hampir bangkit melihat tema kuliah hari ini, Kebijakan Fiskal Islam. Secara gw aktivis ekonomi syariah. Lama-lama gundah gelisah juga dengerin apa yang disampaikan bu Fifi itu. Sepertinya, belum masuk ke bagian inti, bahasannya normatif. Si ibu gak ngejelasin tentang instrumen fiskal Islam dan sebenernya apa yang membedakan dengan konvensional. Waktu ngebahas sedikit tentang perbankan syariah si Ibu banyak nanya ke anak-anak. Eh, anak-anak banyak yang manggil gw gitu. Mereka pengen gw yang ditanya kali.  Impact kemarin pas diajar sama pak Firdaus, gw ditanya cita-cita mau jadi apa. Suruh dijawab yang keras, ya gw bilang pengen jadi pakar ekonomi syariah. Jadi dah seluruh penghuni kelas tau, sebagian manggil gw pakar ekonomi syariah. Padahal ilmu gw tentang eksyar gak seberapa men… (hahaha).

 

Rasanya pengen banget nanya sama bu Fifi tentang unek-unek gw yang gak puas dengan apa yang beliau jelaskan. Tapi, sore itu gw ngerasa jadi pengecut, gak berani nanya. Itulah penyakit lama gw. Sebenernya bukan gw doang sih yang punya perasaan gitu. Sebagian temen-temen gw yang lain pernah curhat tentang permasalahannya yang persis mirip kayak gw. Punya unek-unek tapi nyali untuk mengungkapkan ’ciut’. Weleh, weleh.. sudah mahasiswa ko masih kayak gitu ya.

 

Kebiasaan buruk semacam itu sering gw temui di berbagai kampus dalam sebuah acara semisal seminar. Baik itu di kampus gw ataupun di kampus lainnya. Baik itu kampus negeri maupun kampus luar negeri. Sering gw perhatikan dalam sebuah acara seminar dalam sesi tanya jawab selalu sedikit orang yang mengacungkan tangannya untuk bertanya atau sekedar mengomentari. Terkadang bahasan yang sebenernya seru, pas sesi tanya jawab jadi lesu karena respon audiance yang kurang. Sampai-sampai pembicaranya jadi ngantuk, heran dan bertanya-tanya dalam hati mereka: gimana bangsa kita mau maju? Hehehe.

 

Tapi selama ini gw cukup bangga dengan diri gw sendiri, terkadang dalam seminar yang bener-bener membuat hati gw gemas dan jantung gw berdetak dengan tempo tak beraturan membuat gw lebih berani untuk bertanya. Kayak seminar tentang BLBI yang menuai pro-kontra dikalangan mahasiswa kampus dan seminar tentang microfinance syariah yang diadakan oleh pihak departemen gw.

 

Cuma, ya itu, kalo sudah di depan mengemukakan pendapat gw gak bisa tenang, kayak orang marah bawaannya. Padahal sebenarnya gw lembut loh orangnya. Mungkin itu kali ya, kenapa gw dikelas rada pasif. Gw gak bisa tenang kalo nanya. Kalo yang rada tegang bahasannya dan membuat keringat dingin gw bercucuran, kuping gw panas, baru keberanian gw muncul. Yah, mungkin gw emang harus terus belajar bagaimana cara mengemukakan pendapat yang baik, dengan tempo yang lebih teratur tentunya. Kayak Bang Nazrul, jarang ngomong, tapi sekalinya ngomong badai pun jadi berhenti. Maksud gw anak-anak yang tadinya rame berubah jadi sepi mendengarkan Bang Nazrul berbicara. Subhanallah akhi.

 

Disitulah bad mood gw biasanya semakin menjadi-jadi, pengen nanya tapi gak berani nanya. Seolah gw orang yang paling stupid di dunia ini. Friends, kalo lo ngerasain hal yang sama kayak gw jangan pernah menyerah, dunia ini tidak akan berakhir gara-gara gituan doang. Terus belajar, kendalikan emosi, dan yakin bahwa yang terbaik dalam hidup ini adalah proses. Ketika kita memiliki sejuta kekurangan dan kita selalu berusaha untuk memperbaikinya–walaupun terkadang gagal atau terkena risiko ditertawakan orang lain–tetaplah merasa bangga karena kita telah mencoba berproses menjadi lebih baik. Don wori, be hapi! ^_^

 

 

Mei 26, 2008 at 4:17 am 2 komentar

I wanna go there

This is the holy place and so beautifull, of course. Salah satu mimpi saya, ya menunjungi tempat ini, Mekkah al Muqaramah. Tentunya bukan untuk memuaskan hasrat semata, lebih dari itu, kesempurnaan agama lah yang ingin dicapai. Bahagia sekali ya rasanya apabila bisa mengajak orang tua ke sana. Hadiah yang mungkin sangat bernilai bagi orang tua. Apalagi beliau umurnya udah 50’an lebih. Biasanya tuh, orang tua seumuran gitu gak banyak yang mereka ingin capai. Ajak aja naik haji, dijamin beliau akan merasakan kebahagian yang tak ternilai. Setelah naik haji, kebutuhan spiritual kita serasa lengkap. Haji kan merupakan rukun iman yang terakhir, sifatnya gak wajib kalo gak mampu.

 

Saya yakin kita semua pasti ingin membahagiakan orang tuanya. Tapi, kebayang gak sih untuk ngajak mereka pergi haji? Wah, kalo gak kebayang kayaknya mulai saat ini kalian harus mulai memikirkan dan mempunyai cita-cita ke arah sana. Semoga saja Allah memberikan kesempatan kepada kita, dan orang tua tentunya, untuk mengunjungi rumahNya yang agung tersebut (Baitullah). Amiin.

 

April 30, 2008 at 3:32 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Blogor

Kategori