Tasawuf

November 28, 2007 at 3:49 am 3 komentar

Definisi Tasawuf

Istilah “tasawuf”(sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian. Menurut pendapat lain kata itu berasal dari kata kerja bahasa Arab safwe yang berarti orang-orang yang terpilih. Makna ini sering dikutip dalam literatur sufi. Sebagian berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti baris atau deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertama dalam salat atau dalam perang suci. Sebagian lainnya lagi berpendapat bahwa kata itu berasal dari shuffa, ini serambi rendah terbuat dari tanah liat dan sedikit nyembul di atas tanah di luar Mesjid Nabi di Madinah, tempat orang-orang miskin berhati baik yang mengikuti beliau sering duduk-duduk. Ada pula yang menganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba, yang me- nunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batin kurang mempedulikan penampilan lahiriahnya dan sering memakai jubah sederhana yang terbuat dari bulu domba sepanjang tahun.
Apa pun asalnya, istilah tasawuf berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencerahan batin.
Penting diperhatikan bahwa istilah ini hampir tak pernah digunakan pada dua abad pertama Hijriah. Banyak pengritik sufi, atau musuh-musuh mereka, mengingatkan kita bahwa istilah tersebut tak pernah terdengar di masa hidup Nabi Muhammad saw, atau orang sesudah beliau, atau yang hidup setelah mereka.

Namun, di abad kedua dan ketiga setelah kedatangan Islam (622), ada sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi, atau menggunakan istilah serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti bahwa mereka mengikuti jalan penyucian diri, penyucian “hati”, dan pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa sekalipun mereka tidak melihat Dia, Dia melihat mereka. Inilah makna istilah tasawuf sepanjang zaman dalam konteks Islam.

Saya kutipkan di bawah ini beberapa definisi dari syekh besar sufi:

Imam Junaid dari Baghdad (m.910) mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”. Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m.1258), syekh sufi besar dari Arika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan”. Syekh Ahmad Zorruq (m.1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:

    Ilmu yang dengannya Anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan Islam,khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata.

Ia menambahkan, “Fondasi tasawuf ialah pengetahuan tentang tauhid, dan setelah itu Anda memerlukan manisnya keyakinan dan kepastian; apabila tidak demikian maka Anda tidak akan dapat mengadakan penyembuhan ‘hati’.”

Menurut Syekh Ibn Ajiba (m.1809):

Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnva adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi.

Syekh as-Suyuthi berkata, “Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk”.
Dari banyak ucapan yang tercatat dan tulisan tentang tasawuf seperti ini, dapatlah disimpulkan bahwa basis tasawuf ialah penyucian “hati” dan penjagaannya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Penciptanya. Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk menyucikan “hati”-nya dan menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad saw.

Dalam konteks Islam tradisional tasawuf berdasarkan pada kebaikan budi ( adab) yang akhirnya mengantarkan kepada kebaikan dan kesadaran universal. Ke baikan dimulai dari adab lahiriah, dan kaum sufi yang benar akan mempraktikkan pembersihan lahiriah serta tetap berada dalam batas-batas yang diizinkan Allah, la mulai dengan mengikuti hukum Islam, yakni dengan menegakkan hukum dan ketentuan-ketentuan Islam yang tepat, yang merupakan jalan ketaatan kepada Allah. Jadi, tasawuf dimulai dengan mendapatkan pe ngetahuan tentang amal-amal lahiriah untuk membangun, mengembangkan, dan menghidupkan keadaan batin yang sudah sadar.

Adalah keliru mengira bahwa seorang sufi dapat mencapai buah-buah tasawuf, yakni cahaya batin, kepastian dan pengetahuan tentang Allah (ma’rifah) tanpa memelihara kulit pelindung lahiriah yang berdasarkan pada ketaatan terhadap tuntutan hukum syariat. Perilaku lahiriah yang benar ini-perilaku–fisik–didasarkan pada doa dan pelaksanaan salat serta semua amal ibadah ritual yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw untuk mencapai kewaspadaan “hati”, bersama suasana hati dan keadaan yang menyertainya. Kemudian orang dapat majupada tangga penyucian dari niat rendahnya menuju cita-cita yang lebih tinggi, dari kesadaran akan ketamakan dan kebanggaan menuju kepuasan yang rendah hati (tawadu’) dan mulia. Pekerjaan batin harus diteruskan da1am situasi lahiriah yang terisi dan terpelihara baik.

Entry filed under: Islam. Tags: .

Jalan Sufi

3 Komentar Add your own

  • 1. avih anom  |  Agustus 11, 2008 pukul 6:36 am

    sebenarnya untuk makna sufi dari sofiyun,segotnya isim pail,jadi untuk arti tergantung kontek awalnya,maksudnya apa yang di bahasnya,jadi bisa yang berbaris bisa yang bersih/suci,intinya orang islam itu harus sufi dalam segala bidang atau pengabdian kepada allah swt

  • 2. berti  |  Maret 27, 2009 pukul 1:08 am

    parktek tasawuf dizaman sekarang tidak lagi harus menjauh dari keramaian,artinya jangan ada lagi pengasingan diri sampai berbulan dan bertahun di hutan atau digunung. namun seorang sufi dituntut untuk berinteraksi dengan masyarkat dimana ia tinggal dengan tetap berpegang teguh kepada prinsip-prinsip syariah (agama). kesederhanaan, tekun dalam ibadah dan tetap menjadi manusia seperti yang lain. sebab rasulullah sendiri tetap berinteraksi dengan umat. bahkan dia menganjurkan untuk menikah, makan, tidur layaknya manusia biasa sebab dia (rasulullah) juga melakukan hal2 itu. sbb ternyata tuhan tidak suka yang berlebih-lebihan. ingat seorang sufi juga akan dimintakan pertanggungan jawaban terhadap kewajibannya dalam bermasyarakat. imam bonjol, cik ditiro dan banyak lagi, juga adalah tokoh sufi tapi mereka memimpin rakyat dalam menghadapi para pejajah. yang pasti adalah praktek kesufian yang paling sempurna adalah ada pada diri rasulullah shallallau alaihi wasallam. wallahu a’alam

  • 3. waris  |  Maret 27, 2009 pukul 2:56 am

    kalau dalam teori ilmu kalam ada tiga tahapan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk menjadi seorang sufi yakni takhalli (pengosongan), dimana seorang harus membersihkan dirinya dari dosa2 besar. syirik, durhaka dll.kedua adalah tahlli (menghiasi), setelah dia mampu pada maqam awal, maka dia harus menghiasi diri dengan perilaku yang baik2.dan terakhir adalah tajjalli (pengejawantahan)dimana seorang yang sudah mencapai pada maqam ini tiada setiap perbuatan dan tindak tanduknya adalah dia (Tuhan)sesungguhnya yang berbuat. “wamaraitu walaakinnallaha rama”. dengan demikian maka seorang sufi harus menyesuaikan diri dengan 3 perkara pula yaang ada dalam dirinya. semua teori itu akan sia2 jika tidak didukung oleh 3 hal ini. yakni Qauly,fi’ly dan qalby. inii yang saya sebut dengan “sarang”. singk.perkataan seorang sufi harus baik2 tidak kasar,tidak selalu bernada keras dll, juga tidak boleh berprasangka buruk terhadap ciptaan Allah termasuk pada jin dll. dan terakhir adalah punya pribadi yang baik santun dalam berkata, gerak, beramal tanpa pamrih dll. yang pasti dari ketiga hal ini,semuanya tidak ada yang bertentangan denga syariat Allah dan Nabiyullah. wallahu a’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogor

Kategori


%d blogger menyukai ini: