Semakin Bad Mood Gara-gara Nyali Ciut

Mei 26, 2008 at 4:17 am 2 komentar

My Diary, Thursday 22, Mei 2008

 

Tumben, sore ini gw pengen mencurahkan isi hati yang entah apa yang sedang dirasakan, lagi gak mood ”anything” nih. Sebenarnya sih pengen dari dulu bisa mencurahkannya dalam bentuk tulisan kayak gini, tapi ada aja godaannya, ada kerjaan/tugas lah, perlu koordinasi ke daerah2 lah, atau mungkin ketika mood yang aneh-aneh itu datang setelah mandi udah ilang lagi, males dah jadinya kalo nulis. Kayaknya cuma buang-buang waktu doang, padahal masih banyak yang harus gw lakukan di dunia ini, belajar atau melakukan something positive lain. Hmm, hati manusia emang mudah terhanyut oleh angin, tersapu ombak, bagaikan es yang mencair karena terpancar oleh sinar matahari yang panas. Tapi pas gw pikir sekarang nih, mencurahkan isi hati itu kan penting ya, selain bisa menghilangkan bad-mood juga bisa menambah kapasitas kita dalam bidang tulis menulis. Siapa tau bisa jadi penulis cerpen nantinya, atau mungkin novel, artikel dikoran/majalah, dll.

 

Begini nih ceritanya, tadi pas berangkat kuliah jam setengah satuan bawaannya males mulu. Cuacanya panas. Jalannya juga males, maklum fakultas gw emang agak jauh dari kostan. Apalagi sendirian berangkatnya. Temen sekostan gw, si Indra berangkat dari jam setengah sembilan tadi. Kebetulan tadi ketemu di depan Bursa Dramaga, pas gw mau pulang ke kostan, dari Jakarta, nginep ditempatnya Faqih, temen satu organisasi di FoSSEI. Ceritanya lucu bisa sampai nginep disana. Tak disangka, tak diduga. Segala sesuatu itu memang Tuhan yang menentukan. Recananya kemaren itu ana (bahasa rohisnya saya/gw), Fehmy, Izul and Faqih mau pergi ke Bank Indonesia. Organisasi gw diundang kesana untuk diskusi tentang pengembangan ekonomi syariah, terkait dengan simposium nasional yang sudah diadakan oleh komisariat Riau 12-14 Mei kemarin. Sekitar 20 orang yang diundang dari Jabodetabek. Wah kerenkan, jarang-jarang mahasiswa diundang oleh orang sekaliber pak Ramzi Zuhdi. Itu loh, pimpinan Direktorat Perbankan Syariah BI. Kita udah kayak orang-orang penting aja, berpakaian serba necis, kecuali gw yang cuma pake polo-shirt (biasalah mahasiswa). Dari Bogor memang terlihat keren, sudah sampe di Jakarta kelihatan kucelnya. Hehe. Maklumlah transportasi yang digunakan KRL alias kereta listrik, kelas kambing pula. Rp 2500; bisa sampe Kota. Dari KRL kita turun di stasiun Djuanda, trus harusnya naik busway ke Thamrin. Sayang, busway gak bisa lewat Thamrin, jalannya ditutup, ada aksi/demo besar-besaran menolak kenaikan BBM. Kita kebingungan, kata Didi (Presnas) dari situ tinggal naik ojek aja. Kita berempat kepalang naik busway berdasarkan saran satpam busway yang menyesatkan. Dia nyuruh turun di Harmoni, trus kemana gitu. Faqih yang tau. Dia kan orang Jakarta.

 

Sesampainya di Harmoni, kita ngantri lagi nunggu busway yang ke blok-M, gw sih ikut aja, abis gak tau apa-apa tentang jalan-jalan di ibukota. Akhirnya Izul dan Fehmy mutusin keluar dari antrian. Mereka pilih naik ojek biar cepet nyampe. Gw sama Faqih mikir-mikir, kayaknya mahal naik ojek dari Harmoni ke BI. Gak jadi deh, gw ikut Faqih aja.

 

Dasar, si Faqih yang anak jakarta itu kurang menguasai jalannan ibukota juga. Jam tiga kita masih di busway. Pertemuan kan jam dua. Ah, pupus sudah harapan untuk bertemu dengan salah satu orang penting di Indonesia ini. Ikut Faqih aja pulang ke rumahnya. Istirahat disana, nginep.

 

Begitulah cerita kenapa gw bisa nginep di rumah Faqih. Gak pernah direncanakan sebelumnya. Dan ini merupakan yang pertama kali gw berkunjung ke tempat dia. Lumayan seru sih. Kampungnya kayak Daarut Tauhid, pesantrenan Aa Gym. Sejuk, tenang, banyak akhwat berjilbab besar dan banyak ikhwan berjanggut. Di masjid Al-Hikmah, yang ada di sana, jumlah yang solat banyak, entah magrib, isya, bahkan subuh. Bahagia sekali rasanya.

 

Loh ko jadi kesana ceritanya? Lanjut ke cerita awal. Siang tadi emang lagi agak gak mood. Masuk kelas, gak kebagian duduk disamping temen-temen baik gw biasanya. Barisannya udah full, cuma depannya yang kosong. Ya sudah gw duduk di depannya, tepatnya baris kedua. Sendiri pula.

 

Lantas apa yang terjadi, mood gw yang agak bad ini hampir bangkit melihat tema kuliah hari ini, Kebijakan Fiskal Islam. Secara gw aktivis ekonomi syariah. Lama-lama gundah gelisah juga dengerin apa yang disampaikan bu Fifi itu. Sepertinya, belum masuk ke bagian inti, bahasannya normatif. Si ibu gak ngejelasin tentang instrumen fiskal Islam dan sebenernya apa yang membedakan dengan konvensional. Waktu ngebahas sedikit tentang perbankan syariah si Ibu banyak nanya ke anak-anak. Eh, anak-anak banyak yang manggil gw gitu. Mereka pengen gw yang ditanya kali.  Impact kemarin pas diajar sama pak Firdaus, gw ditanya cita-cita mau jadi apa. Suruh dijawab yang keras, ya gw bilang pengen jadi pakar ekonomi syariah. Jadi dah seluruh penghuni kelas tau, sebagian manggil gw pakar ekonomi syariah. Padahal ilmu gw tentang eksyar gak seberapa men… (hahaha).

 

Rasanya pengen banget nanya sama bu Fifi tentang unek-unek gw yang gak puas dengan apa yang beliau jelaskan. Tapi, sore itu gw ngerasa jadi pengecut, gak berani nanya. Itulah penyakit lama gw. Sebenernya bukan gw doang sih yang punya perasaan gitu. Sebagian temen-temen gw yang lain pernah curhat tentang permasalahannya yang persis mirip kayak gw. Punya unek-unek tapi nyali untuk mengungkapkan ’ciut’. Weleh, weleh.. sudah mahasiswa ko masih kayak gitu ya.

 

Kebiasaan buruk semacam itu sering gw temui di berbagai kampus dalam sebuah acara semisal seminar. Baik itu di kampus gw ataupun di kampus lainnya. Baik itu kampus negeri maupun kampus luar negeri. Sering gw perhatikan dalam sebuah acara seminar dalam sesi tanya jawab selalu sedikit orang yang mengacungkan tangannya untuk bertanya atau sekedar mengomentari. Terkadang bahasan yang sebenernya seru, pas sesi tanya jawab jadi lesu karena respon audiance yang kurang. Sampai-sampai pembicaranya jadi ngantuk, heran dan bertanya-tanya dalam hati mereka: gimana bangsa kita mau maju? Hehehe.

 

Tapi selama ini gw cukup bangga dengan diri gw sendiri, terkadang dalam seminar yang bener-bener membuat hati gw gemas dan jantung gw berdetak dengan tempo tak beraturan membuat gw lebih berani untuk bertanya. Kayak seminar tentang BLBI yang menuai pro-kontra dikalangan mahasiswa kampus dan seminar tentang microfinance syariah yang diadakan oleh pihak departemen gw.

 

Cuma, ya itu, kalo sudah di depan mengemukakan pendapat gw gak bisa tenang, kayak orang marah bawaannya. Padahal sebenarnya gw lembut loh orangnya. Mungkin itu kali ya, kenapa gw dikelas rada pasif. Gw gak bisa tenang kalo nanya. Kalo yang rada tegang bahasannya dan membuat keringat dingin gw bercucuran, kuping gw panas, baru keberanian gw muncul. Yah, mungkin gw emang harus terus belajar bagaimana cara mengemukakan pendapat yang baik, dengan tempo yang lebih teratur tentunya. Kayak Bang Nazrul, jarang ngomong, tapi sekalinya ngomong badai pun jadi berhenti. Maksud gw anak-anak yang tadinya rame berubah jadi sepi mendengarkan Bang Nazrul berbicara. Subhanallah akhi.

 

Disitulah bad mood gw biasanya semakin menjadi-jadi, pengen nanya tapi gak berani nanya. Seolah gw orang yang paling stupid di dunia ini. Friends, kalo lo ngerasain hal yang sama kayak gw jangan pernah menyerah, dunia ini tidak akan berakhir gara-gara gituan doang. Terus belajar, kendalikan emosi, dan yakin bahwa yang terbaik dalam hidup ini adalah proses. Ketika kita memiliki sejuta kekurangan dan kita selalu berusaha untuk memperbaikinya–walaupun terkadang gagal atau terkena risiko ditertawakan orang lain–tetaplah merasa bangga karena kita telah mencoba berproses menjadi lebih baik. Don wori, be hapi! ^_^

 

 

Entry filed under: Tulisan. Tags: , .

I wanna go there NOSTALGILA: I’m Still Oldskool

2 Komentar Add your own

  • 1. vta  |  Maret 12, 2009 pukul 5:33 am

    emg tuh..
    gw seneng bgt tuh pas tanya ma dosen gw.
    yg udh bikin gw gelisah n gregettan pngn tny..
    n pas udh berani tny plong bgt deh..
    for the 1st time..

  • 2. Nadine  |  Mei 15, 2009 pukul 4:48 pm

    wow long story
    yaah bener don’t give up n tep semangat kawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogor

Kategori


%d blogger menyukai ini: