NOSTALGILA: I’m Still Oldskool

Juni 7, 2008 at 10:31 am Tinggalkan komentar

Sunday (Midnight), June 1st 2008

This is the second time acara kontes musik pemuda masa kini diadain lagi di kampung gw. Setelah sekian lama, kira-kira pas gw baru tingkat satu akhir acara yang sama pernah digelar. Waktu itu acara dilaksanakan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia, kalo dalam bahasa simple-nya acara agustusan.

Kali ini acara digelar hanya untuk senang-senang tanpa alasan yang jelas dan dapat dipertangungjawabkan di hadapan publik. Ide ini berawal dari salah satu anggota masyarakat yang memiliki sebuah studio musik. Chaeril Armoza namanya. Akrabnya gw panggil Caeril or sametimes Eril. Kebetulan dia sahabat gw SMA yang selalu gw tebengin kalo dia lagi bawa bo’il ke sekolah. Lumayan bisa ngirit ongkos hingga 50 persen, or perhaps till 100 persen kalo kebetulan pulang pergi bareng dia. But, itu jarang terjadi. Secara kelompok bermain gw beda airan sama kelompok dia. Kelompok gw idiologinya lebih ke arah ’little religious melankonis futuristis’, sedangkan temen gw itu alirannya lebih mendekati ’sabodo teuing aing teu nyararaho’ (hayo loh, tau gak artinya?? Hehe, sorry Ril heureuy). So, wajar kalo balik kita jarang bareng coz biasanya masing-masing kelompok punya tujuannya masing-masing.

Awalnya, kata Eril, acara ini dibuat sekaligus untuk launching album indie and EO alias event organizer-nya. Tapi berdasarkan apa yang gw liat dan amati, kayaknya enggak gitu deh. Acaranya begitu sederhana. Di pagi hingga sore hari, si Caeril dan panitia lainnya menampilkan band-band pemula yang mayoritas ABG untuk membawakan masing-masing dua lagu dari setiap band. Tujuannya sih sedikit komersil, cari duit juga ya Ril?! Maklum lah, bikin acara sekecil apapun tetep membutuhkan duit yang lumayan. Biar gak rugi-rugi amat. Next, malemnya baru acara private, tertutup untuk umum, wabil khusus untuk temen-temen deketnya aja. Band-bandnya keren, ber-skill and betul-betul menghibur. Ada beberapa band indie yang sudah menelorkan album, seperti Mayonaise, ada pula band kocak mirip Team Lo yang berasal dari Unpak membawakan lagu-lagunya Benyamin Su’eb. Itu loh tokoh legendaris dengan muka kampung rezeki kote. Lainnya, band-band potensial yang gak kalah seru yang berasal dari berbagai sudut di wilayah Bogor. Bahkan ada satu band berasal dari kampus IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Terbayangkan, kalo acara ini gak bisa dibilang acara ece-ece, eventhough sebenernya dikemas dengan amat sederhana sekali.

Siang hari menjelang waktu Dzuhur gw and temen menuju ke lokasi. Sempet agak kecewa coz acaranya ko gini banget, terlihat ece-ece, banyak muda mudi berondong baru tumbuh bak kecambah. Dengan stelan gaya anak zaman sekarang, tentunya berdasarkan aliran kepercayaan masing-masing, para pelancong itu betebaran di sepanjang jalan Mandor Hasan. Sedikit prihatin melihat kondisi umat saat ini, dan sedikit malu juga melihat kondisi diri ini. Dalam benak gw selalu bertanya-tanya: mungkin dulu, waktu masih daun bawang (abege) gw kayak gini kali ya? Oh tidak. Dan ternyata hal ini membuat gw merasa semakin tua. Gw bukan anak ingusan lagi chuy. Tapi, ya sudah lah, sudah memang seharusnya.

Jujur, ketertarikan gw terhadap dunia musik/band sudah sangat berkurang. Jangankan memimpikan untuk membuat album indie, memainkan alat musik pun sudah tak bisa lagi. Padahal sebelumnya gw selalu berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya, dari satu gig ke gig lainnya. Maklumlah, bukan sedikit sombong, dulu band gw merupakan salah satu band yang paling ditunggu-tunggu oleh para undergrounder tingkat lokal. Bukan lokal nasional, bukan pula lokal regional, melainkan lokal kecamatan atau lebih parahnya lokal RT/RW. Bukan karena kepiawaian kami bermain musik, bukan pula kehebatan kami dalam setiap aksi panggungnya. Jadi, apa dong? Nah, itu dia yang selalu kita tanyakan. Tapi betul bahwa dunia seperti ini sudah sekian lama gw tinggalkan. Ada hal yang lebih penting yang harus gw lakukan. Dan gw kira tak bisa ditinggalkan sepenuhnya, gw tetep harus tau perkembangan musik idiologis seperti ini dari masa ke masa. Tujuannya hanya satu, supaya bisa tetap dekat dan nyambung dengan mereka yang menganutnya. Sehingga tujuan dakwah pun bisa dicapai dengan mudah. Makanya, untuk para aktivis, jangan memandang sebelah mata, tapi lihatlah bahwa disana ladang amal bagi kita. Masih banyak sendi-sendi kehidupan yang perlu kita jamah. Kalo bukan kita siapa lagi.

Siang itu gw ketemu sama temen sekampung jua, mereka mengatakan bahwa band-nya main malem nanti. Sial, tadinya sore ini gw berencana balik ke kostan. Besok gw kuliah pagi jam tujuh. Dosennya lumayan killer juga, gak boleh masuk kalo telat lebih dari 10 menit. Ditambah, ada PR yang belum gw kerjakan. Tapi, pikirku berkata lain, ini kan acara yang jarang sekali terjadi, sayang kalo dilewatkan. Hajatan pemuda kampung kita lah pokonya mah. Baiklah, ternyata kala itu syetan berhasil membujuk gw. Akhirnya gw putuskan untuk berangkat subuh saja, nonton dulu sampe kelar. Nanti malam gw putuskan untuk kembali ke tempat ini. Nonton band-band yang lebih matang dan berkualitas.

Malam hari mulai pukul 21.00 acara kembali dimulai. Sebelumnya acara direncanakan akan dibuka kembali ba’da isya atau sekitar pukul 19.30, tetapi karena banyaknya massa yang berdatangan dan menunggu di depan pintu gerbang acara ditunda. Acara ini merupakan acara private, bukan untuk umum. Dikhawatirkan pula akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan alias rusuh, beberapa fenomena maksiat seperti meminum minuman keras dan mojok ’dua sejoli’ di tempat-tempat tertentu dimana sesungguhnya panitia tidak bisa mengontrol hal semacam ini. Jadi lebih baik dibubarkan terlebih dahulu. Selanjutnya hanya peserta, panitia, dan warga Kopo saja yang boleh menikmati acara ini.

Berbagai band tampil memukau dan menghibur. Dari yang superserius hingga mellow, dari musik benyamin sampai musik oldskool ada di sini. Seru dan asyik. Bahkan mang Andi, si penggembala kambing, pun tak bisa mengedipkan matanya melihat aksi panggung peserta. Terlebih rasa penasaran beliau yang ingin menyaksikan si Nelo, anaknya, beraksi sebagai drumer dalam sebuah band melodic di kampung kami. Gw dan mang Andi terus menyaksikan berlangsungnya acara sambil mengamati kondisi umat masa kini. Adakah perubahan yang lebih baik bagi warga kampung kami. Gw bisa menyimpulkan bahwa generasi muda saat ini lebih baik, walaupun mereka bermain band beraliran bawah tanah, tetapi dalam aktivitas bersih-bersih masjid, makam, atau kerjabakti lainnya tak pernah dilewatkan, bahkan mereka termasuk golongan orang-orang yang rajin beribadah/solat ke masjid (walaupun cuma magrib dan isya doank, hehe..).

Keadaan memanas di beberapa menit terakhir, band tuan rumah (The Matador: Caeril dkk.) menampilkan performance yang matang dan ’full of power’ burned spirit penonton yang ada, terutama barudak Kopo. Terlebih lagi acara ditutup dengan band tuan rumah kedua, yaitu The Maker, yang terdiri dari Nelo (anak mang Andi) sebagai drumer, Baba (Imam), Temon, dan iO anak pak Lurah yang membawakan melodic song karya sendiri. Barudak Kopo pun antusias moshing/pogo sambil bercanda dan tertawa-tawa memperagakan gaya yang aneh. Memang sudah seperti itu tabiatnya kali ya?? ;-p

Mentang-mentang band penutup, The Maker mulai dirasuki roh hardcore dari para sesepuh penyebar hardcore NU-skull di wilayah kami. Mereka adalah Utenk dan Sabenk. Utenk langsung saja mengambil alih mic dan me-request The Maker untuk membawakan oldskool song yang sempat dipopulerkan band gw dulu di masa jahiliyah ’Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas’. Lagu tersebut merupakan sebuah karya band oldskool peteran Jakarta Straight-Answer.

Keadaan menjadi lebih tidak terkendali, ratusan masa Front Oldskool Kopo (FOK) memadati area panggung, pogo dan turut bernyanyi meneriakan sebuah jargon ’Bangkit Melawan atau tunduk Ditindas’ di sela-sela lirik secara bersama-sama. Tak ketinggalan tokoh pemuda pembela umat masa kini terpancing untuk turut serta turun panggung bernyanyi bersama. Meski kacamata yang dikenakannya terlempar ketika pogo, tak menyurutkannya untuk berhenti. Idealisme paham bawah tanah yang sempat dianutnya kembali merebak kepermukaan. Semua orang pun tak menyangka ini bisa terjadi pada seorang yang dikenal sebagai salah satu aktor intelektual dibalik berbagai pergerakan untuk melawan kesewenang-wenangan proyek kontroversial hotel USSU dan berbagai perubahan yang telah dilakukannya untuk kemajuan umat.

Hal yang lebih menarik, musisi Bluss Kopo kawakan alias Mang Ayo yang sudah memiliki tiga anak dan bisa dikatakan tidak muda lagi secara fisik tak tahan untuk ikut-ikutan pula setelah sebelumnya menahan teman-teman untuk tidak rusuh dalam pogonya.

Selain itu disinyalir turunnya dedengkot NU-skull mengambil alih mic dan merasuki warna musik kedua The Maker dikarenakan ketidakpuasannya akibat gagal manggung karena salah dua dari personil bandnya dulu tidak bisa menerima tawarannya bermain dalam acara tersebut. Salah satunya karena sudah menjadi ketua DKM di kampung kami (Hehehe..). ”kita buktikan bahwa Kopo bersatu tak bisa dikalahkan”, kata Utenk.

Entry filed under: Tulisan. Tags: .

Semakin Bad Mood Gara-gara Nyali Ciut SISTEM EKONOMI ISLAM: SATU-SATUNYA SOLUSI KRISIS FINANSIAL GLOBAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogor

Kategori


%d blogger menyukai ini: