SISTEM EKONOMI ISLAM: SATU-SATUNYA SOLUSI KRISIS FINANSIAL GLOBAL

Desember 21, 2008 at 3:38 am 1 komentar

fb2Judul di atas merupakan judul seminar yang diselenggarakan BKIM IPB pada hari Sabtu (20/12) kemarin. Judul yang cukup mendorong siapapun yang tertarik dengan dunia ekonomi (terutama ekonomi Islam) dan yang tak ketinggalan mengikuti perkembangan krisis financial global (KFG). Seminar tersebut menghadirkan pakar-pakar nasional yang kompeten di bidangnya, antara lain Iman Sugema, Phd (ekonom senior yang sedang naik daun, berkiprah di INDEF, Intercafe, dan masih aktif sebagai dosen di Departemen Ilmu Ekonomi, FEM IPB) ; Jaenal Effedi, SE, MA (dosen Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi, FEM, IPB ); Ir. Ismail Yusanto, MA (Pakar Ekonomi Islam/Direktur SEM Institute). Patut disayangkan salah satu pembicara berhalangan untuk hadir. Beliau adalah Prof. Dr. Kwiek Kian Gie—tokoh nasional. Padahal, Kwiek diharapkan akan menjadi pengimbang karena beliau dinilai dapat melihat dari perspektif yang berbeda.

Krisis financial global bermula dari krisis subprime mortgage—semacam kredit perumahan murah yang sertifikatnya diderivatifkan dan diperjualbelikan di pasar modal—yang kemudian berimbas bukan hanya di Negara maju melainkan juga di Negara berkembang, termasuk Indonesia. Hingga saat ini di negara kita sebanyak lebih dari 15000 orang telah di PHK dan diperkirakan akan menyusul dalam jumlah yang lebih besar. Hal tersebut umumnya menimpa perusahaan yang berorientasikan ekspor (export oriented) yang mana Negara-negara tujuan ekspornya sedang mengalami resesi akibat krisis sehingga tidak ada lagi permintaan akan produk-produk perusahaan tersebut. Di Indonesia, besarnya tekanan KFG ini terlihat dari terkoreksinya indeks di bursa saham, terdepresiasinya nilai tukar hingga sempat mencapai Rp. 12.000 per dollar, anjloknya komoditas ekspor andalan seperti CPO, dll. Trend penurunan harga minyak dunia yang cukup tajam juga merupakan dampak dari KFG yang bisa memberikan sedikit nafas segar bagi kita.

Selama era kapitalis berlangsung krisis semacam ini bukanlah sesuatu yang aneh. Krisis sudah terjadi berkali-kali, sebagai contoh the great depression yang dimulai sejak 1929, krisis Amerika Latin, dan mimpi buruk yang tentunya masih segar dipikiran kita yang melanda Indonesia sejak 1997/98. Untungnya pada krisis kali ini kondisi perbankan Indonesia masih terhitung cukup kuat sehingga belum berimbas terlalu besar pada sector riil dan belum dikategorikan sebagai krisis ekonomi.

Yang menarik dari seminar ini ekonomi Islam dianggap sabagai satu-satunya solusi. Tapi benarkah dan mungkinkah? Iman Sugema, ekonom senior INDEF, mengemukakan bahwa manajemen makroekonomi harus difokuskan pada tiga titik, antara lain confidence, manajemen liquiditas, dan stabilisasi nilai tukar. Solusi yang sering beliau kemukakan dalam media cetak antara lain dengan melakukan kebijakan ekspansi moneter dengan menurunkan suku bunga acuan/BI rate, kebijakan kontrol devisa, dan penjaminan penuh simpanan di Bank. Menurutnya, solusi tersebut merupakan solusi jangka pendek dan akan muncul solusi-solusi berikutnya yang disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.

Solusi yang lebih ekstrim dikemukakan oleh ahli ekonomi syariah Ismail Yusanto (yang sebelumnya saya hanya mengenal beliau sebagai politikus di luar mainstream yang ada). Beliau mengemukakan bahwa penyelesaian KFG tergantung pada solusi (syariah) semacam apa yang kita inginkan, solusi parsialkah atau solusi yang betul-betul menyeluruh. Solusi parsial dilakukan dengan penghapusan instrumen bunga pada sistem financial, dan menutup pasar sekunder serta pasar derivatif yang selama ini didominasi oleh investor-investor asing (lebih dari 60%). Lebih lanjut beliau berpendapat bahwa sebetulnya ia tidak setuju dengan penggunaan istilah investor di pasar non-riil tersebut, beliau lebih suka mengatakannya sebagai speculator atau lebih tepat lagi penjudi. Perbankan syariah dan pasar modal syariah adalah bentuk kongkrit dari solusi parsial ini. Menurut hemat saya, solusi parsial sangat memungkinkan dilakukan. Perbankan syariah dan pasar modal syariah saat ini memang telah ada dan menjadi alternatif yang sudah berlangsung. Namun, untuk penghapusan instrument bunga seluruhnya perlu diperhitungkan lebih matang dan membutuhkan penelitian lebih lanjut terutama mengenai langkah-langkah dan bagaimana mengurangi ekses-ekses yang mungkin timbul. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi para pemikir-pemikir ekonomi Islam ke depan.

Solusi kedua adalah solusi yang lebih ekstrim dibandingkan solusi pertama. Menurutnya sistem ekonomi Islam merupakan solusi yang sistemik. Fiat money yang selama ini digunakan untuk bertransaksi sebaiknya diganti dengan mata uang emas dan perak (dinar dan dirham). Emas dinilai lebih baik dari fiat money karena ia mengandung nilai yang secara alamiah dimilikinya. Jadi tidak seperti fiat money yang nilai intrinsiknya jauh lebih rendah dibandingkan nilai nominalnya (Rp. 17 dalam setiap lembar uang bernominal Rp. 100.000). Di manapun dan kapan pun nilai satu dinar emas tidak akan pernah berubah, yaitu sama dengan 4,25 gram 22 karat. Selanjutnya beliau memaparkan perlunya merubah sistem secara mendasar berdasarkan mekanisme pasar syariah, termasuk pentingnya pendirian Baitul Mal sebagai institusi yang mengatur sektor kepemilikan individu, umum, dan Negara.

Iman Sugema menambahkan, pencapaian solusi yang ‘memungkinkan’ atau yang bisa dilakukan adalah hal yang paling urgen untuk mengatasi permasalahan KFG agar dampaknya tidak meluas dan membuat kondisi kita lebih buruk lagi.

Dari pemaparan para ahli tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa kondisi saat ini merupakan kondisi yang bersifat darurat. Kebijakan fiscal dan kebijakan moneter melalui instrument-instrumen yang ada dan berlaku saat ini sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan perekonomian bangsa agar tidak terperosok lebih dalam. Selain itu, peran perbankan syariah dan pasar modal syariah dalam mengembangkan sector riil perlu didukung semua pihak dan menjadi prioritas pemerintah. Adapun penerapan dinar dan dirham sebagai mata uang serta perubahan mendasar hendaknya kita jadikan sebagai objek pengembangan yang bisa dilakukan melalui pengkajian atau penelitian yang lebih mendalam.

Entry filed under: Ekonomi Islam, Tulisan. Tags: .

NOSTALGILA: I’m Still Oldskool Mukhtamar SES-C 2008: Reportase dan Rekomendasi

1 Komentar Add your own

  • 1. rianfebriana  |  Desember 21, 2008 pukul 3:46 am

    krismon lagi, krismon lagi…. bosen ah…. hehe ;p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogor

Kategori


%d blogger menyukai ini: