MEMINTA FATWA HARAM GOLPUT = MENODONG MUI

Desember 24, 2008 at 10:28 am 3 komentar

zvcpy7mqv0ha88jzd1hgAkhir –akhir ini wacana mengenai fatwa yang mengharamkan golput (golongan putih) santer terdengar di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Isu ini berkembang setelah Hidayat Nurwahid—ketua MPR RI—meminta kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menfatwakan haramnya golput. Menurutnya, golput adalah bentuk keputus-asaan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Hidayat juga menekankan akan pentingnya meningkatkan peran partai politik (parpol) dalam menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap partai politik yang ada yang bisa dilakukan sejak dini melalui pengkaderan yang baik.

Ketua dewan fatwa MUI, KH. Ma’ruf Amin, berpendapat bahwa meminta memfatwakan haram akan suatu hal sama dengan menodong MUI. Urusan halal atau haram adalah urusan MUI, jadi jangan meminta memfatwakan haram atau halal, tetapi meminta fatwa saja itu sudah cukup. Lebih lanjut Pak Kyai menyatakan bahwa itu baru sebuah wacana, belum ada fatwa mengenai haram atau halalnya golput. Di sisi lain, beliau sebetulnya setuju akan haramnya golput. Menurut penilaiannya golput tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya merefleksikan bentuk keputus-asaan. “Mencoblos atau memilih bisa menjadi wajib apabila kita memilih partai politik yang benar, yaitu partai yang memiliki misi untuk ber-amar-ma’ruh nahi munkar”, tegas Pak Kyai. Beliau tidak menyebutkan partai politik yang mana yang ia maksud, “pasti ada” itulah yang beliau katakan.

Jika kita flash back berita-berita sebelum berkembangnya wacana ini, kita bisa melihat pertikaian yang tak berujung antara Kyai dan santri—Gusdur dan Muhaimin Iskandar. Kekalahan Gusdur sebagai ketua dewan syuro PKB berdampak semakin memanasnya konflik internal ditubuh PKB. Terakhir kita tahu bahwa Gusdur lah yang menjadi pionir kampanye golput. Seruan ini lantas disambut positif oleh pendukung-pendukung fanatik Gusdur. Bisa jadi, seruan golput ala Gusdur ini merupakan ekses dari konflik internal yang mana hanya PKB Muhaimin lah yang dianggap sah dan bisa mengikuti Pemilu 2009.

Jika kita tinjau lebih dalam, latar belakang orang memilih golput bisa disebabkan tidak sempatnya seseorang untuk pergi ke tempat pemungutan suara (TPS), tidak terdaftarnya seseorang walaupun sudah mencapai usia pemilih, sengaja tidak memilih tanpa alasan yang jelas, dan terakhir karena alasan idiologis. Menurut hemat penulis alasan idiologis adalah alasan yang bisa dibenarkan secara hukum mengenai kebebasan berpendapat, namun hal ini tentu bukanlah keputusan yang solutif mengingat jalur demokrasi yang resmi inilah yang merupakan jalan yang bisa ditempuh.

Kini kita tinggal menunggu waktu saja apakah fatwa golput benar-benar akan dikeluarkan oleh MUI atau hanya akan menjadi sekedar wacana seperti halnya fatwa mengenai rokok. Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing, dan setiap orang boleh memilih apa saja yang diyakininya, termasuk memilih menjadi bagian solusi atau tidak. Pada dasarnya munculnya berbagai partai politik patut kita sambut dengan baik, hal ini mencerminkan semangat mereka untuk menyelesaikan permasalahan bangsa—disamping memperjuangkan kepentingan masing-masing. Tentu permasalahan terkadang bersifat relative tergantung siapa yang memandangnya. [Rian|23/12/08]

Entry filed under: Tulisan. Tags: .

Mukhtamar SES-C 2008: Reportase dan Rekomendasi FATWA: BUKAN URUSAN HALAL-HARAM, TAPI MASALAH SUKA-TIDAK SUKA

3 Komentar Add your own

  • 1. petet fundamental  |  Januari 18, 2009 pukul 2:23 pm

    Karena REVOLUSI tidak akan pernah terjadi di dalam Parlemen. oleh sebab itu, saya malas masuk ke dalam bilik suara!!!!!

  • 2. kyai slamet  |  Januari 21, 2009 pukul 1:33 pm

    saya tidak suka golput, tapi saya lebih tidak suka fatwa haram golput😀

  • 3. iswandi  |  Januari 27, 2009 pukul 6:10 am

    kalo emang fatwa itu murni keluar dari diri MUI, berarti MUI ini kelihatan bodohnya, bagaiman tidak, Islam melarang mengharamkan apa2 yang dihalalkan Alloh, dan menghalalkan apa2 yang diharamkan Alloh, bukan kock malah MEMLINTIR ayat hadits demi kekuasaan, SEHARUSNYA yang dipertanyakan sistem nyoblos itu dalam islam , semua itu hanya akal-akalannya orang yang tamak dan rakus kekuasaan…kalo saya pribadi sebaliknya…nyoblos itu haram bagi saya, banyak mudhorotnya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blogor

Kategori


%d blogger menyukai ini: